Kilaaya

Tags

,

Bila keresahan merasukimu
Ingatlah selalu namamu
Yang adalah doa orang tuamu

Dirimu bukanlah Matahari
Yang cahayanya begitu menyilaukan
Menerangi Bumi dari suramnya semesta

Dirimu bukanlah Bulan
Bersinar redup di atas langit
Mengobati kerinduan akan cahaya di malam hari

Dirimu bukanlah bintang
Menjadi petunjuk untuk mereka
Yang menjadikan laut untuk berpijak

Namamu adalah Kilaaya
Dirimu adalah obor

Tak perlu seterang Mentari
Tak perlu selembut Rembulan
Tak perlu seindah Gemintang

Menerangi jalan yang diliputi kegelapan tak berujung
Menemani mereka yang menggengam erat dirimu
Memberi aman dan harapan dengan api yang berkobar

Yak, karena males ngedit dan nyari gambar, ujung-ujungnya kita kembali ke Serangkai Kata. Kyahahaha. Sebenernya ada note yang pingin aku share. Sebagai seorang otaku. Yah sudahlah, kapan-kapan. Kata ajaibku.

Eeeh, mengenai puisinya, ini adalah puisi tentang ponakanku, anak sang abang, yang bernama Kilaaya. Kilaaya itu artinya obor, dari bahasa Native American entah suku yang mana. Mungkin arti namanya ngga terdengar imut buat nama anak perempuan. Namanya sendiri sih memang cukup feminim.

Terus, ya, aku ngga tahu sebenernya alasan kenapa anak-anak si abang semuanya berawalan huruf K, dan bukan nama-nama yang biasa. Cuma, setelah dipikir-pikir, arti obor itu ngga jelek juga. Yang akhirnya aku hadirkan dalam bentuk puisi. Yaaah, puisiku biasanya memang membicarakan hal yang sederhana sih~.

z/777.

Advertisements

Untuk Saat Ini

Tags

,

Khawatir pada rasa cemburu
Kau hendak mencintaiku
Sepuluh ribu tahun lamanya

Berapa lamakah itu?
Untuk melewati satu hari pun
Kau telah lelah menunggu

Jangan kau ikrarkan
Satu janji yang tinggi
Saat kita tak akan abadi

Tak usahlah kau resah
Aku hanya ingin cintamu
Saat ini saja

Tak usahlah kau bimbang
Aku hanya ingin kasihmu
Saat ini saja

Tak usahlah kau cemas
Aku hanya ingin sayangmu
Saat ini saja

Mungkinkah kau berubah?
Akankah dirimu berpaling
Dari diriku di masa nanti?

Aku tak mau berangan
Cukuplah diriku bersamamu
Untuk saat ini saja

Saat buka-buka notes FB, ternyata memang di ujung-ujung banyaknya itu dari seri Serangkai Kata. Ahahahaha. Kapan ateuh bisa ganti seri~. Memang sih, ada dari seri lain juga, tapi…. Agak sulit untuk di-post. Harus sedikit di-revisi. Yah, sudahlah. Kita bahas saja puisi kali ini.

Kali ini juga kata-katanya sederhana, ngga rumit-rumit. Inspirasinya itu dapet waktu nonton filmnya Stephen Chow yang “Journey to the West: Conquering the Demons”…. Spoiler ya~ buat yang belum nonton~.

Continue reading

Nyanyian Untuknya

Tags

,

Kurindukan dirinya
yang ‘kan lengkapi hidupku
Tapi di manakah kau, kasih?
Gunung hijau menjadi tabir
Buat diriku bergeming
Meratap penuh getir

Tiada putus aku
bayangkan keceriaan
masa depan kita berdua
Akankah angan itu nyata?
Mengalir bersama waktu
hingga mencapai langit

Jemu aku berdiam diri
Maka aku goreskan hatiku
Mengukir lagu untuknya

Wahai lembah
gemakan cintaku
sampaikan isi hatiku
Wahai angin
terbangkan hasratku
hapuslah tabir hatinya
Wahai sungai
alirkan rakitku
antarkan aku padanya

Siang menjadi saksi
keteguhanku menanti
seraya terus kunyanyikan
barisan puisi untuknya
Dalam hening ku menunggu
lagumu yang menyahut

Walau ada gundah di hati
dirayu waktu untuk tunduk
Pun aku terus berdendang

Siapakah
yang rela menunggu
ketika akhir memisahkan?
Siapakah
yang rela tersenyum
ketika susah menghampiri?
Siapakah
yang rela menangis
ketika gembira menyapa?

Wahai lembah
gemakan cintaku
sampaikan isi hatiku
Wahai angin
terbangkan hasratku
hapuslah tabir hatinya
Wahai sungai
alirkan rakitku
antarkan aku padanya

Haiyo. Akhirnya post “Serangkai Kata” lagi, ya. Arara. Bukan apa-apa, soalnya ini termasuk “baru” jadi gampang ditemukan pas ngubek-ngubek notes. Ahahaha. Sekali lagi liriknya tentang cinta, halah, yang entah kenapa merupakan tema yang lebih gampang ditulis untuk jadi puisi atau lirik. Semoga ke depannya bisa bikin lirik tentang masalah sosial seperti Iwan Fals. Faito!

Continue reading

Delapan Tahun Ataupun Nanti

Tags

,

Sampai waktu berhenti berdetik
Selama jantung ini berdetak
Perasaanku takkan berganti
Delapan tahun ataupun nanti

Kisah kita mungkin t’lah berakhir
Terlupakan tawa dan tangis
Terkubur cerita masa ini
Tapi jika kudiam sendiri
Masih tentang kita yang terpikir

Dua insan yang takkan pernah satu
Walau tiga-empat bulan berlalu
Sekarang izinkan aku menulis
Lima-enam baris perasaanku
Yang tergantung pada bulan ketujuh

Delapan tahun atau pun nanti
Perasaanku takkan berganti
Selama jantung ini berdetak
Sampai waktu berhenti berdetik
Namamu kan ada di doaku

Telah berlalu akhir dan awal
Telah kering isak tangis kita
Sakitnya mungkin tak semua hilang
Terkadang muncul di dalam benak
dan mengingatkanku tentang kita

Dua insan yang takkan pernah satu
Walau tiga-empat bulan berlalu
Sekarang izinkan aku menulis
Lima-enam baris perasaanku
Yang tergantung pada bulan ketujuh

Delapan tahun atau pun nanti
Perasaanku takkan berganti
Selama jantung ini berdetak
Sampai waktu berhenti berdetik
Namamu kan ada di doaku:
“Semoga kau bahagia selalu”

Doh. Sebulan ngga dimutakhirkan ya. Wahahaha. Berarti selama sebulan itu juga koneksi di rumah ngga bener-bener. Halah-halah. Kebetulan bentar lagi Valentine, sedikit mengingatkan pada kisah cinta masa lalu. Halah. Liriknya benar-benar murni pengalaman pribadi. Jadi buat yang kesepet, tenang aja, ceritanya bukan tentang kalian…. Tapi kalau kesepet artinya kita sama-sama punya pengalaman serupa ya? xD

Sebenernya aku ngga terlalu suka menjelaskan isi lirikku, tapi hmm… Aku buat pengecualian di blog ini. Mungkin bisa jadi pelecut semangat untuk banyak mempelajari sesuatu untuk menambah perbendaharaan kata, alegori atau lainnya. Ahem.
Continue reading

Setelah Kusimak (1): Maggot Feeder

Tags

,

Akhinya kesampaian juga nonton film-film pendek yang disajikan di Hello Fest. Yang Indonesia konsepnya biasa-biasa aja, animasinya cukup, masih kalah, tapi menjanjikan. Nah, yang luar? Konsep ceritanya sableng, animasi biasa, tapi memiliki daya tarik.

Salah satu film pendek non-Indonesia yang ditayangkan itu judulnya Maggot Feeder. Karena kalian kemungkinan ngga punya sumbernya, jadi aku tulis ringkasan ceritanya.

Continue reading

Cerita Sesat: (2) Dung Given

Tags

,

Kejadiannya terjadi saat Ipang dan Iping masih SMP. Guru Bahasa Indonesia mereka saat itu menerangkan mengenai kalimat pasif dan penggunaannya. Setelah selesai menerangkan, sang guru pun bertanya pada Iping.

Guru : Iping, misalnya kamu ngasih tahu kepada Ipang yang tidak masuk sekolah bahwa ada tugas. Bagaimana kalimatnya?

Iping : Eeeh….. Ipang dikasih tahu Iping kalau ada tugas hari ini?

Guru : Kasih tahu itu kurang tepat, bisa pakai kata lain?

Continue reading

Salam Kenal

Selamat pagi. Ini akan menjadi post pertama yang berupa tulisan, ya. Setelah sepekan lewat, bingung blog-nya mau diisi apa saja. Ahahaha. Pada intinya, blog ini sebenarnya hanya akan digunakan untuk memindahkan tulisan-tulisan saya selama ini yang ada di Facebook. Fitur “Notes” di Facebook itu… kurang bisa dirapikan. Nah, biar rapi, tertanggal dan mudah dicari, akhirnya dibuatlah blog ini. Jadi, untuk beberapa bulan ke depan, mungkin posts yang ada di sini semuanya cuma berupa re-post (copy-paste) Notes. Yah, mungkin sesekali ada yang baru.

Continue reading