Tags

Telah lama aku menjadi diriku
Masih banyak yang tidak kuketahui
Tentang aku dan segenap pertanyaan
Semua yang tak dapat kujawab sendiri

Harus ke manakah aku melangkah?
Adakah pilihan ini baik untukku?
Pada siapakah aku harus bertanya?
Bimbang hatiku terus mencari diri-Mu

Kuberdiri, menunduk, dan bersujud
Dalam hati kusebut-sebut nama-Mu
Izinkanlah aku meminta
Beri aku, bimbing aku
Ke jalan yang Kau tahu baik untukku

Jauh bisa mataku ini memandang
Tak kuasa ‘tuk melihat masa depan
Semua yang ada di hadapan diriku
Tak kusangka ‘kan diselimuti malam

Harus ke manakah aku mencari?
Akankah aku tersesat di dalam gelap?
Pelita manakah ‘kan menerangi?
Dalam hening aku rindukan suara-Mu

Kuberdiri, menunduk, dan bersujud
Dalam hati kusebut-sebut nama-Mu
Izinkanlah aku meminta
Beri aku, bimbing aku
Ke jalan yang Kau tahu baik untukku

Kali ini lirik lagu! …Harapannya sih begitu, tapi aku ngga ngerti musik, jadi ngga tahu juga ini sajak bisa dinyanyikan dan diiringi musik apa ngga. Sudahlah~.

Eeeh, salah satu inspirasinya adalah dari lagu “Kedamaian”-nya Tohpati feat. Terry, sebuah lagu “religi” yang bisa dibilang… Karena kemasannya ngga “agamis”, tampak seperti bukan lagu “religi”. Lagian… Definisi lagu religi itu apa, ya…? Aku sendiri merasa setiap lagu yang bisa “mencerminkan” “wajah-Nya” adalah lagu religi, ngga perlu jadi nasyid atau nyanyian gereja. Toh, ibadah juga kan tidak semua harus berupa ritual, perbuatan baik yang tampak sepele sekalipun adalah ibadah. Jadi, kepengen juga deh untuk bisa buat lirik lagu “religi” yang… Uhm… “Lepas”. Apapun itu. Ahaha.

Nah, inspirasi satunya lagi? Dari komik! Komik percintaan remaja yang galau-galaw gichu dech~. Kok bisa? Dalam cerita-cerita kan, suka ada karakter bilang hal sejenis begini: “aku pun tak mengerti kenapa aku tertarik padamu” atau “aku tak tahu perasaan yang ada di hati ini” atau semacamnya deh. Dari situ aku kepikiran, “iya juga, ya. Walau kita adalah diri sendiri setelah sekian lama, ternyata kita bahkan masih ga paham tentang diri kita sendiri. Tentang apa yang kita suka, kenapa kita suka, dan lain-lainnya.”

Lalu, aku kaitkan dengan prinsip: dengan mengenal diri sendiri, kita dapat mengenal Tuhan. Ada juga sisi Islami, yaitu adanya shalat Istikharah, kalau bahasa bekennya mungkin, “shalat curhat”. Saat seorang Muslim galau, resah, bingung, dan bimbang, maka dianjurkan untuk shalat Istikharah untuk “bertanya” ataupun “curhat”! “Ya, Gusti, hamba kudu bgimana ini?” Yah, kira-kira begitu kan?

Setelah sekian lama dipendam, akhirnya mencuatlah inspirasi itu jadi lirik lagu ini. Walau dapat inspirasi, kalau ngga ada yang bisa ditulis, biasanya ga maju-maju cantik, soalnya~. Jadi idenya harus ditiriskan dulu sampai akhirnya meledak, DUAR!

Uhm… Kesan pribadi sih, paling suka kalimat, “Dalam hening kurindukan suara-Mu”. Agak ngga nyambung, mungkin, ya? Awalnya menggambarkan gelap dan mencari cahaya, kok jadi membicarakan hening dan suara? Aselinya, aku juga sudah nulis, “Dalam gelap kurindukan cahaya-Mu”, tapi… Dalam penerawanganku sempat terlihat sosok anak kecil yang tertunduk dalam gelap. Mirip adegan pilm-pilm gitu lho. Anak kecil tersesat, akhirnya duduk sambil menangis, berharap orang tuanya dapat menemukannya. Nah, kira-kira itulah alasan kalimatnya diganti. Karena memang “tokoh”-nya dikisahkan sedang “tersesat”, akhirnya aku ambil yang “suara-Mu”. Lagipula, di adegan menunduk seperti itu kan yang disadari duluan adalah suara, “Anakku~, kamu di mana?”. Begitulah~.

z/777.

Advertisements