Tags

, , ,

Duduk di sampingmu, pikiranku mengawang-ngawang

Apa yang sebenarnya kau lihat?
Saat kau kemudikan angkotmu begitu kencang
Seakan lupa pada penumpang yang kau bawa

Kenapa kau terlihat terburu-buru?
Saat kau banting keras tanganmu
Membunyikan klakson dengan nyaring
Seakan itulah luapan kemarahanmu

Siapa yang kau panggil?
Saat suara paraumu menyebutkan
Tempat-tempat yang telah kau kenal lama
Seakan kau hanya bisa berkata itu saja

Di mana pikiranmu berada?
Saat jemarimu perlahan membuka dompet
Menghitung lembaran uang yang tak seberapa
Seakan waktumu telah habis tak bersisa

Begitulah aku terdiam
Dengan pertanyaan yang tak terucap
Aku menatapmu
Itu tak membantu
Aku mendoakanmu
Itu tak membantu
Aku membayar ongkosku
Itu tak membantu

Aku turun dan berkata,
“terima kasih”
Dengan canggung mungkin tersenyum
Angkotmu melaju pergi
Meninggalkanku
Dengan pertanyaan yang tak terucap.

Hai, hai. Astaga. Post terakhir Mei? Ahahaha…. Maaf dan~… Sebenarnya aku bilang maaf ke siapa ya? xD

Ahem. Kemarin-kemarin aku ngobrol sama teman dan~… Hmm… Sempat menyinggung masalah tulisan. Jadi, awalnya dia bilang lagi dengerin lagu tentang pantai. Oooh. Terus, iseng-iseng aku menulis hmm… “deskripsi” tentang suasana pantai yang ada dalam pikiranku. Ngga terima (karena bikin galau), dia bales dengan copas lirik lagu yang dia dengarkan. Wah, indah deh pokoknya.

Nah, di situ aku sempat bilang kalau untuk menulis itu kita harus terbiasa mengobservasi. Yah, ngga harus observasi sih… Hmm… Mungkin pandangan atau wawasan atau pengetahuan tentang banyak hal. Semakin luas wawasannya, semakin banyak hal yang bisa ditulis.

Dari situ, aku setengah bercanda bilang, “karena aku sering ngangkot, dijamin deh aku gampang banget nulis puisi tentang angkot.” Daaan… Itulah yang terjadi. Puisi tentang angkot yang ada di atas. Saking cepetnya, Pop Mie pun belum mateng saat puisi itu selesai ditulis. Yah, itu artinya tulisannya juga segitu doang kualitasnya.

Kalau naik angkot, aku biasa duduk di depan (seandainya memungkinkan). Jadi ya… aku terbiasa juga mengamati tindak-tanduk pak supirnya. Itulah yang menginspirasi puisi ini.

Yah~~, walau terdengar idealis, aku berharap orang-orang dapat mengerti beban hidup pak supir angkot. Bukan berarti karena dia terdesak jadi boleh berlaku seenaknya sih, tapi… Seandainya kita berada di posisi yang sama, mungkin kita akan berlaku serupa. Mungkin?

z/777.

Advertisements