Tags

, ,

Matahari baru terjaga
Kau sudah mulai melangkah
Perbukitan Bandung kau susuri
Demi hidup hari ini

Tak pernahkah kau dengar?
Jerit pundakmu mengeluhkan
Beban berat yang dia panggul
Tidakkah kau digoda?
Oleh ringkih kedua kakimu
Memintamu diam saja

Ah, tapi tetap kau bawa
Daganganmu ke rumah-rumah
“Yeum! Peuyeum!” kau jajakan
Pagi ini pun, Aki
Kau lewat depan rumah kami

Matahari baru terjaga
Kau sudah mulai melangkah
Perbukitan Bandung kau susuri
Demi hidup hari ini

Apakah itu tangisan?
Punggung bungkukmu sesenggukkan
Takut patah oleh beban
Bukankah dia berbisik?
Kedua mata rentamu menegur
“Nanti kau bisa tertabrak!”

Ah, tapi tetap kau bawa
Daganganmu ke rumah-rumah
“Yeum! Peuyeum!” kau jajakan
Pagi ini pun, Aki
Kau lewat depan rumah kami

Yay~! Akhirnya tema yang selama ini mau kuangkat~! Ngga tentang masalah sosial sih, tapi… ya… setidaknya tentang kejadian sehari-hari yang biasa kulihat.

Ini itu kisah penjual peuyeum di sekitar rumah kami. Umurnya…. 70-an akhir, dan biasa kami panggil “Aki”, kakek dalam bahasa Sunda. Sebenernya, aku ngga sempet kepikiran nulis lirik tentang beliau, tapi satu pagi waktu nganterin babeh, kami berpapasan dengan Aki. Babeh lalu berkata, “wah, Aki bawa peuyeum sampai gemeteran gitu.” Yah, namanya beban berat gitu, ya, terlebih Aki udah tua, wajar pas bawa dagangan pun susah payah. Terus, ya, biasa. INSUPIRASHION!

Setelah peristiwa itu lewat…. Sebulan? Dua bulan? Akhirnya kutulislah lirik ini. Ahahahah. Selain Aki sendiri, inspirasinya adalah cerita tentang…. Nabi Isa kalau ngga salah.

Jadi katanya, beliau pernah melihat ada seorang tua yang sedang mencangkul. Lalu dia berdoa, “Ya, Allah, tariklah”……… nafsu dunianya? Lupa. xD Pokoknya, mendadak orang tua itu berhenti mencangkul. Lalu, Nabi Isa berdoa lagi, “Ya Allah, kembalikanlah.” Orang itu pun mencangkul kembali. Nabi Isa mendekati orang tua tersebut dan bertanya, kenapa kau tadi sempat berhenti mencangkul? Orang tua itu menjawab, “Saat aku mencangkul, tiba-tiba terpikir olehku bahwa aku sudah tua. Untuk apa bekerja lagi? Tapi tak lama kemudian aku berpikir, selama masih hidup, aku tak boleh berhenti bekerja.”

Intinya sih, jangan tergoda untuk berhenti bekerja atau belajar atau beribadah setua apapun. Yang muda-muda jangan kalah semangat, ya~.

PS. Ngomong-ngomong. Judulnya ngga banget ya…?

z/777.

Advertisements