Tags

,

Terburu-buru aku mengayunkan kaki
Sambil terus menahan diri
Akankah kuasa ini terlepas
Atau bertahan hingga dilepas

Bertanya-tanya aku dalam hati
Haruskah berlari atau cukup berjalan
Memang gejolak tak mau menanti
Akhirnya jalan cepat pun jadi pilihan

Wasiat genggam batu sudah tak mempan
Hanya konsentrasi jadi ujung depan
Mengelus perut tiadalah guna
Karena dia sudah cukup merana

Lega rasanya saat pintu kubuka
Memberi bahagia walau tak menuju surga
Celana dan kolor segera kulucuti
Lalu ku duduk manis di kamar mandi

Syukur ini tiada hingga
Karena masih diizinkan ‘tuk buang hajat
Beban ini pun lepas landas sudah
Meluncur ke septic tank dengan selamat

Serangkai Kata kembali~. Gara-gara kemarin-kemarin waktu chatting ada yang lagi kebelet pup, tapi WC-nya lagi dipake. Dia akhirna nahan-nahan gejolaknya sambil chat.  Yang sabar ya, nak.

Puisi ini sendiri memang diinspirasi oleh atitpeyut yang dialami oleh penulis. Jadi, waktu bingung mau nulis apa, mendadak penulis merasakan perubahan suasana di perut. Ngga berlangsung lama, tapi cukup lama untuk jadi bahan tulisan. Kalau disingkat kira-kira jadi: Nulis apa ya? > Duh! Sakit perut! > HAH? Inspirasi! > Menulis.

Ngomong-ngomong wasiat genggam batu masih diturunkankah? Dulu, saat aku kebelet pup, tapi WC belum siap sedia, kakakku menyarankan aku untuk mengenggam batu. Entah buat apa. Menyalurkan energi ngeden? Mengalihkan konsentrasi? Ngga jelas deh. Yang pasti, wasiat genggam batu itu ditutup oleh kata-kata pamungkas: “Kalau udah bener-bener ngga kuat nahan kebelet, batunya kamu jadiin ganjel pantat!”

z/777.

Advertisements