Tags

,

Aku membunuhnya.
Ya, kau membunuhnya.
Salahkah aku?
Mungkin, kau bersalah.
Tapi dia membunuh mereka terlebih dahulu.
Tepat, dia berdosa sebelum kau berdosa.
Aku menghukumnya sebagaimana dia harus dihukum.
Hukuman mati? Mungkin sekarang kau juga harus dihukum mati.
Tidak! Aku membunuhnya atas dasar hukum!
Adakah hukum yang membenarkan itu?
Aku membunuhnya karena dia pantas dibunuh!
Siapakah dirimu yang mampu menilai manusia?
Apakah pembunuh pantas hidup?
Entahlah, mungkin iya.
Untuk apa!? Dia tak lebih sampah! Bukan manusia!
Karena dia membunuh?
Ya! Seorang pembunuh tentu saja pantas dibunuh!
Tanpa pengadilan?
Untuk apa pengadilan? Membiarkannya hidup untuk membunuh lebih banyak?
Entahlah, siapa tahu dia mau bertobat.
Bagaimana mungkin binatang sepertinya mau bertobat?
Entahlah, aku bukan Yang Maha Tahu.
Benar, mungkin manusia bisa diselamatkan.
Tapi?
Ada juga yang tak bisa diselamatkan.
Lalu?
Hanya kematian yang menyelamatkannya.
Hmmm, mungkin kau benar.
Bukan mungkin! Memang kenyataannya begitu!
Tapi bukankah setiap manusia memiliki hak untuk hidup?
Begitu juga dengan korban pembunuhan.
Karena pembunuh melanggar hak maka dia tak mempunyai hak?
Benar.
Bagaimana hak untuk mendapatkan pengampunan?
Kita bukan Yang Mahapengampun.

Etto, etto. Ini bukan “Cerita Sesat”, bukan “Serangkai Kata” ataupun yang lain. Di FB, ini tuh… DPS. Aku agak lupa kepanjangannya apa. Dialog Pendek Sekali? Hmmm… Ah. Sudahlah.

Ini adalah bentuk tulisan berupa dialog yang sengaja karakternya tidak disebutkan namanya, jadi seakan-akan ini adalah monolog. Karena memang, tulisan ini sebenarnya bentuk dari “dialog” diriku dengan diriku “yang lain”. Untuk menjaga kesendiriannya, maka beginilah dibuatnya.

z/777.

Advertisements