Yang Kau Tahu

Tags

Telah lama aku menjadi diriku
Masih banyak yang tidak kuketahui
Tentang aku dan segenap pertanyaan
Semua yang tak dapat kujawab sendiri

Harus ke manakah aku melangkah?
Adakah pilihan ini baik untukku?
Pada siapakah aku harus bertanya?
Bimbang hatiku terus mencari diri-Mu

Kuberdiri, menunduk, dan bersujud
Dalam hati kusebut-sebut nama-Mu
Izinkanlah aku meminta
Beri aku, bimbing aku
Ke jalan yang Kau tahu baik untukku

Jauh bisa mataku ini memandang
Tak kuasa ‘tuk melihat masa depan
Semua yang ada di hadapan diriku
Tak kusangka ‘kan diselimuti malam

Harus ke manakah aku mencari?
Akankah aku tersesat di dalam gelap?
Pelita manakah ‘kan menerangi?
Dalam hening aku rindukan suara-Mu

Kuberdiri, menunduk, dan bersujud
Dalam hati kusebut-sebut nama-Mu
Izinkanlah aku meminta
Beri aku, bimbing aku
Ke jalan yang Kau tahu baik untukku

Continue reading

Advertisements

Pertanyaan Yang Tak Terucap

Tags

, , ,

Duduk di sampingmu, pikiranku mengawang-ngawang

Apa yang sebenarnya kau lihat?
Saat kau kemudikan angkotmu begitu kencang
Seakan lupa pada penumpang yang kau bawa

Kenapa kau terlihat terburu-buru?
Saat kau banting keras tanganmu
Membunyikan klakson dengan nyaring
Seakan itulah luapan kemarahanmu

Siapa yang kau panggil?
Saat suara paraumu menyebutkan
Tempat-tempat yang telah kau kenal lama
Seakan kau hanya bisa berkata itu saja

Di mana pikiranmu berada?
Saat jemarimu perlahan membuka dompet
Menghitung lembaran uang yang tak seberapa
Seakan waktumu telah habis tak bersisa

Begitulah aku terdiam
Dengan pertanyaan yang tak terucap
Aku menatapmu
Itu tak membantu
Aku mendoakanmu
Itu tak membantu
Aku membayar ongkosku
Itu tak membantu

Aku turun dan berkata,
“terima kasih”
Dengan canggung mungkin tersenyum
Angkotmu melaju pergi
Meninggalkanku
Dengan pertanyaan yang tak terucap.

Continue reading

Puteri Sepasang Kaca

Tags

,

Kau yang seperti puteri dalam menara
Melihat dunia dari balik sepasang kaca
Walau itulah yang menyihirmu jelita
Kuberharap kau melepas keduanya
Agar tak kau lihat wajahku tanpa asa
Karena tak sanggup katakan cinta

Di pagi hari diriku kau sapa
Tak dapat kurasakan keberanian tersisa
Selain hanya untuk tersenyum saja
Walau ada sedikit kegembiraan terasa
Jalinan kata tak terungkap yang ada
Mengikat hatiku pedih hingga terluka

Wahai puteri sepasang kaca
Ceriamu telah buat hatiku terpenjara
Elok rupamu tak berhenti mempesona
Manis hatimu memikat diri yang hampa
Tapi engkau begitu jauh bagai kartika
Tak tergapai oleh panah asmara

Biarlah aku jadi si jelata yang bersuka cita
Saat pangeranmu datang dengan tulus di dada
Membawamu pergi untuk mengarungi dunia
Walau mungkin senyumku ialah dusta
Tapi harapanku untuk melihatmu bahagia
Adalah sebenar-benarnya luapan jiwa

Continue reading

Klepon

Tags

, ,

L+: Walau hitamnya dunia hancurkan asa, tapi indah dirimu wahai klepon, yakinkanku kehadiran surga.

Dinko:  klepon, manisnya isi hatimu lebih manis dari senyuman bidadari~

L+: Hijau rupamu, sejukkan mataku~.

Dinko: taburan kelapa yg putih bersih itu menuturkan bahwa kaupun akan menaburkan benih2 cinta dalam hati ini

gula yg membuncah di dalam mulut ini pun seolah menyatu dan mengalir bersama aliran darahku

L+: Lembut tubuhmu belai mulutku, hibur perutku. Adakah sempurna selain dirimu?

Dinko: kau tercipta bersama air yg mendidih dengan api cinta dan menyelam lalu timbul kembali

L+: Beralaskan daun, kau berbaring, menanti, kedatangan dia yang kan menimangmu.

Dinko: aku yakin dia pun akan jatuh hati padamu dan menginginkanmu lagi dan lagi

terus dan terus, hingga tanpa sadar dia tak kan bisa hidup tanpamu

L+: Karena siapakah yang mampu menahan godaan manismu?

Atau mengalihkan mata dari dirimu, yang seperti padang hijau bertiara putih?

Continue reading

Tetap Berlari

Sudah berapa kalikah aku tersandung
terjatuh, terluka dan menangis
Tapi aku tak takut, tak berhenti
Aku bangkit, lalu kembali

Sudah berapa kalikah aku lalui
Lintasan jingga yang jadi arena
Di atas atau di bawah podium
Aku tak pernah puas

bridge1:
Sesak nafasku, berat langkahku
kencang degup jantungku
hampir habis asaku
Haruskah aku berhenti?

reff:
Bersama angin yang berderu
Kucoba tinggalkan bayanganku
Berusaha untuk lebih cepat, lebih cepat lagi
Walau berteriak nafsu dan ragaku
Aku akan tetap berlari
Hingga kuraih horizon itu

Sudah berapa kalikah aku menatap
Punggungnya yang jauh melesat
Sisakan kecewa jadi medaliku
Aku tertunduk lelah

Sudah berapa kalikah aku tersenyum
Teteskan air mata pemenang
Tinjukan kedua tangan ke langit
Aku berharap lebih

Kencangnya angin, riuhnya dukungan
Dekatnya langkah rival
Terangnya garis finis
Bisakah aku berhenti?

*back to reff
*back to bridge1 > reff

Continue reading

Aki Peuyeum

Tags

, ,

Matahari baru terjaga
Kau sudah mulai melangkah
Perbukitan Bandung kau susuri
Demi hidup hari ini

Tak pernahkah kau dengar?
Jerit pundakmu mengeluhkan
Beban berat yang dia panggul
Tidakkah kau digoda?
Oleh ringkih kedua kakimu
Memintamu diam saja

Ah, tapi tetap kau bawa
Daganganmu ke rumah-rumah
“Yeum! Peuyeum!” kau jajakan
Pagi ini pun, Aki
Kau lewat depan rumah kami

Matahari baru terjaga
Kau sudah mulai melangkah
Perbukitan Bandung kau susuri
Demi hidup hari ini

Apakah itu tangisan?
Punggung bungkukmu sesenggukkan
Takut patah oleh beban
Bukankah dia berbisik?
Kedua mata rentamu menegur
“Nanti kau bisa tertabrak!”

Ah, tapi tetap kau bawa
Daganganmu ke rumah-rumah
“Yeum! Peuyeum!” kau jajakan
Pagi ini pun, Aki
Kau lewat depan rumah kami

Yay~! Akhirnya tema yang selama ini mau kuangkat~! Ngga tentang masalah sosial sih, tapi… ya… setidaknya tentang kejadian sehari-hari yang biasa kulihat.

Continue reading

Sudah di Ujung

Tags

,

Terburu-buru aku mengayunkan kaki
Sambil terus menahan diri
Akankah kuasa ini terlepas
Atau bertahan hingga dilepas

Bertanya-tanya aku dalam hati
Haruskah berlari atau cukup berjalan
Memang gejolak tak mau menanti
Akhirnya jalan cepat pun jadi pilihan

Wasiat genggam batu sudah tak mempan
Hanya konsentrasi jadi ujung depan
Mengelus perut tiadalah guna
Karena dia sudah cukup merana

Lega rasanya saat pintu kubuka
Memberi bahagia walau tak menuju surga
Celana dan kolor segera kulucuti
Lalu ku duduk manis di kamar mandi

Syukur ini tiada hingga
Karena masih diizinkan ‘tuk buang hajat
Beban ini pun lepas landas sudah
Meluncur ke septic tank dengan selamat

Serangkai Kata kembali~. Gara-gara kemarin-kemarin waktu chatting ada yang lagi kebelet pup, tapi WC-nya lagi dipake. Dia akhirna nahan-nahan gejolaknya sambil chat.  Yang sabar ya, nak.

Continue reading

Dewana

Tags

,

Aku membunuhnya.
Ya, kau membunuhnya.
Salahkah aku?
Mungkin, kau bersalah.
Tapi dia membunuh mereka terlebih dahulu.
Tepat, dia berdosa sebelum kau berdosa.
Aku menghukumnya sebagaimana dia harus dihukum.
Hukuman mati? Mungkin sekarang kau juga harus dihukum mati.
Tidak! Aku membunuhnya atas dasar hukum!
Adakah hukum yang membenarkan itu?
Aku membunuhnya karena dia pantas dibunuh!
Siapakah dirimu yang mampu menilai manusia?
Apakah pembunuh pantas hidup?
Entahlah, mungkin iya.
Untuk apa!? Dia tak lebih sampah! Bukan manusia!
Karena dia membunuh?
Ya! Seorang pembunuh tentu saja pantas dibunuh!
Tanpa pengadilan?
Untuk apa pengadilan? Membiarkannya hidup untuk membunuh lebih banyak?
Entahlah, siapa tahu dia mau bertobat.
Bagaimana mungkin binatang sepertinya mau bertobat?
Entahlah, aku bukan Yang Maha Tahu.
Benar, mungkin manusia bisa diselamatkan.
Tapi?
Ada juga yang tak bisa diselamatkan.
Lalu?
Hanya kematian yang menyelamatkannya.
Hmmm, mungkin kau benar.
Bukan mungkin! Memang kenyataannya begitu!
Tapi bukankah setiap manusia memiliki hak untuk hidup?
Begitu juga dengan korban pembunuhan.
Karena pembunuh melanggar hak maka dia tak mempunyai hak?
Benar.
Bagaimana hak untuk mendapatkan pengampunan?
Kita bukan Yang Mahapengampun.

Etto, etto. Ini bukan “Cerita Sesat”, bukan “Serangkai Kata” ataupun yang lain. Di FB, ini tuh… DPS. Aku agak lupa kepanjangannya apa. Dialog Pendek Sekali? Hmmm… Ah. Sudahlah.

Continue reading

Cerita Sesat: (3) Solusi Kemacetan?

Tags

,

Malem-malem, Iping dan Aping ngobrol tentang masa depan kota Dadung tercinta.

Iping: Walikotanya Dadung yang periode depan sih mudah-mudahan bagus, tapi tugasnya lumayan berat. Semoga bisa sukses.
Aping: Pasti berat. Dadung udah kaya Jeqardah sekarang kan, macet di mana-mana.
Iping: Sayangnya iya. Ahahahah.
Aping: Aku pengen pindah ke Planet Namec yang ngga ada macetnya.
Iping: Ya, iya ga macet! Penduduknya kan ke mana-mana bisa terbang sendiri!

z/777.

(Mohon maaf, joke ini kemungkinan besar hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang baca Dragon Ball)